KEBIJAKAN NILAI UTN 80 TIDAK HUMANIS!!!

KEBIJAKAN NILAI UTN 80 TIDAK HUMANIS!!!
Oleh : Daris Wibisono Setiawan, S.S, M.Pd

Kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menaikkan nilai Ujian Tulis Nasional (UTN) online dengan nilai lebih dari sama dengan 80 bagi guru di acara puncak sertifikasi guru skema PLPG menjadikan kegaduhan dan kekecewaan tingkat dewan dikalangan para pendidik. Kebijakan yang sangat tidak humanis dan jauh dari sikap memuliakan guru, dimana kenaikan nilai ambang batas dari 42 menjadi 80 adalah sebuah kebijakan yang menyakitkan guru. Penghujung tahun 2017 tepatnya tanggal 30 Desember menjadi hari bersejarah yang menyakitkan bagi semua guru yang dinyatakan TIDAK LULUS UTN. Kristalisasi keringat yang telah dilakukan selama 12 hari mengikuti PLPG, menjadi “siswa” yang baik sekaligus meninggalkan “siswa” disekolah dengan tidak baik menjadi rasa yang menyedihkan.



Bagi pemerintah, loncatan nilai UTN yang tidak masuk akal ini dibutuhkan untuk peningkatan kualitas guru sekaligus pemetaan kompetensi guru yang menjadi titik awal pembinaan dan penilaian kinerja guru. Sebaliknya, perspektif yang sangat beragam dan ada didalam pikiran para guru adalah bahwa UTN harga tinggi ini tidak lebih dari akal-akalan pihak-pihak yang kurang “cinta” dengan status, peran, dan fungsi guru sekarang. Ironisnya, UTN bagi dokter hanya cukup dengan nilai 60 untuk mendapatkan sertifikat profesi.
Sertifikasi merupakan anugerah terindah yang menjadi lencana baru bagi guru sehingga diyakini mampu membuat guru melakukan lompatan kemakmuran yang signifikan. Sertifikat pendidik ini diberikan kepada guru yang memenuhi standar profesional dan pedagogik guru.

Pertanyaannya, kenapa KOMPETENSI KEPRIBADIAN DAN KOMPETENSI SOSIAL TIDAK DI NILAI???. Dalam pembelajaran tentunya bukan hanya transfer of knowledge tapi juga transfer of personality. Pembelajaran di era disrupsi mengharuskan guru lebih pada penanaman pendidikan karakter seperti, etos kerja-tangguh-jujur-gotong royong dan lain-lain sebagai bekal dasar dan utama
KEBIJAKAN NILAI UTN 80 TIDAK HUMANIS!!!
Oleh : Daris Wibisono Setiawan, S.S, M.Pd

Kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menaikkan nilai Ujian Tulis Nasional (UTN) online dengan nilai lebih dari sama dengan 80 bagi guru di acara puncak sertifikasi guru skema PLPG menjadikan kegaduhan dan kekecewaan tingkat dewan dikalangan para pendidik. Kebijakan yang sangat tidak humanis dan jauh dari sikap memuliakan guru, dimana kenaikan nilai ambang batas dari 42 menjadi 80 adalah sebuah kebijakan yang menyakitkan guru. Penghujung tahun 2017 tepatnya tanggal 30 Desember menjadi hari bersejarah yang menyakitkan bagi semua guru yang dinyatakan TIDAK LULUS UTN. Kristalisasi keringat yang telah dilakukan selama 12 hari mengikuti PLPG, menjadi “siswa” yang baik sekaligus meninggalkan “siswa” disekolah dengan tidak baik menjadi rasa yang menyedihkan.



Bagi pemerintah, loncatan nilai UTN yang tidak masuk akal ini dibutuhkan untuk peningkatan kualitas guru sekaligus pemetaan kompetensi guru yang menjadi titik awal pembinaan dan penilaian kinerja guru. Sebaliknya, perspektif yang sangat beragam dan ada didalam pikiran para guru adalah bahwa UTN harga tinggi ini tidak lebih dari akal-akalan pihak-pihak yang kurang “cinta” dengan status, peran, dan fungsi guru sekarang. Ironisnya, UTN bagi dokter hanya cukup dengan nilai 60 untuk mendapatkan sertifikat profesi.
Sertifikasi merupakan anugerah terindah yang menjadi lencana baru bagi guru sehingga diyakini mampu membuat guru melakukan lompatan kemakmuran yang signifikan. Sertifikat pendidik ini diberikan kepada guru yang memenuhi standar profesional dan pedagogik guru.

Pertanyaannya, kenapa KOMPETENSI KEPRIBADIAN DAN KOMPETENSI SOSIAL TIDAK DI NILAI???. Dalam pembelajaran tentunya bukan hanya transfer of knowledge tapi juga transfer of personality. Pembelajaran di era disrupsi mengharuskan guru lebih pada penanaman pendidikan karakter seperti, etos kerja-tangguh-jujur-gotong royong dan lain-lain sebagai bekal dasar dan utama



Jangan Lupa Di Like

×

Artikel Terpilih

Mengenai Saya